Tuesday, 24 March 2026

Peluncuran dan Diskusi Dua Antologi Puisi LK.Ara, Syair Riwayat Sultanah Safiatuddin dan Restu

JAKARTA- Peluncuran dan diskusi dua antologi puisi karya LK.Ara Syair Riwayat Sultanah Safiatuddin dan Restu (sebuah catatan perjalanan-red) akan berlangsung Sabtu, 28 Maret 2026 mulai pukul 14.15 WIB di Aula Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB.Jassin, Lantai IV Gedung Panjang Ali Sadikin, Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) Taman ismail Marzuki (TIM) Jakarta. 

Octavianus Masheka, Ketua Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI) kepada wartawan di Jakarta, Rabu pagi (25/3/2026) mengatakan acara sastra berupa peluncuran buku antologi, diskusi berhadiah buku dan uang tunai.

" Pulang membawa hadiah dan ilmu, ayo, kita ramaikan acara sastra ini," ujarnya.

Dengan MC (Pembawa Acara) Rissa Churia (Penyair Perempuan Indonesia) dan Moderator Mustafa Ismail, acara ini akan dibuka dengan sambutan dari Nasruddin Djoko Surjono (Kadispusip DKI) serta menghadirkan nara sumber diskusi seperti Narudin Pituin (Penyair dan budayawan), LK.Ara (Penyair), Octavianus Masheka (Penyair dan Deklamator), dan Ine Hidayah (Maestro Sebuku Gayo).

Turut ambil bagian dalam pembacaan puisi berturut-turut Jose Rizal Manua (Penyair dan Deklamator), Imam Ma'arif (Penyair dan Deklamator), Ical Vrigar (Deklamator), Putra Gara (Penyair), Fanny Jonathan Poyk (Penyair), Willy Ana (Penyair), Farinnisa (Pembaca Puisi), dan Indar (Pembaca Puisi).

Biografi Penyair L K Ara

L K Ara adalah seorang penyair dan pegiat seni budaya lahir di Takengon, Aceh tgl 12-11-1937. Ia dikenal melalui karya-karya puisi bernuansa religius, tasawuf, serta kuat mengangkat kearifan lokal tanah Gayo dan Aceh.

Dalam perjalanan kreatifnya, ia menempatkan puisi bukan sekadar sebagai ekspresi estetika, tetapi juga sebagai jalan perenungan spiritual, pengingat sejarah, dan jembatan sosial bagi masyarakat.

Sejak muda, L K Ara telah menunjukkan ketertarikan besar pada dunia sastra, khususnya puisi dan syair tradisi. Ia tumbuh dalam lingkungan budaya yang kaya akan nilai adat, didong Gayo, kisah kepahlawanan, dan tradisi keislaman yang mendalam.

 Pengaruh ini kemudian tampak jelas dalam gaya puisinya yang liris, reflektif, kadang satire tipis, namun tetap sarat pesan moral dan kebijaksanaan. 

Dalam karier kepenyairannya, L K Ara telah menulis dan menerbitkan sejumlah buku puisi. Karya-karyanya sering menampilkan tema kehilangan, pencarian makna hidup, cinta ilahiah, kepedulian sosial, serta hubungan manusia dengan alam dan sejarah. 

Ia juga aktif membaca puisi dalam berbagai forum seni dan pertemuan sastra, termasuk dalam kegiatan lintas budaya di dalam dan luar negeri. 

Selain menulis, L K Ara turut berperan dalam pelestarian seni tradisi Aceh, khususnya budaya Gayo. Ia kerap mengangkat tokoh, tempat, dan legenda lokal ke dalam puisinya, sehingga karya-karyanya menjadi dokumentasi kultural yang hidup. Baginya, puisi adalah cara menjaga ingatan kolektif agar tidak roboh oleh zaman. 

Di usia lanjut, semangat berkaryanya tetap menyala. Ia juga memanfaatkan media digital, termasuk kanal YouTube, untuk membagikan puisi, refleksi budaya, dan dokumentasi seni tradisi kepada generasi muda. Hal ini menunjukkan komitmennya bahwa sastra harus terus bergerak mengikuti zaman tanpa kehilangan ruhnya. 

Melalui perjalanan panjangnya, L K Ara dipandang sebagai salah satu suara penting dalam lanskap sastra Aceh kontemporer—seorang penyair yang menulis dengan hati, mengajar dengan pengalaman, dan merawat cahaya tradisi dalam kata-kata. ‎

Pada th 2019 ia menerima Anugerah Kebudayaan Republik Indonesia sebagai maestro Seni Tradisi Gayo.(Lasman Simanjuntak)

Thursday, 19 March 2026

Riri Satria Siapkan Empat Buku Sekaligus Pada Tahun 2026, Angkat Tema Teknologi, Kebudayaan, dan Kegelisahan Zaman

JAKARTA- Pakar teknologi digital serta penulis dan esais, Riri Satria, tengah menyiapkan peluncuran empat buku terbarunya yang direncanakan terbit pada Mei 2026. 

Keempat buku tersebut masing-masing berjudul “Bom Waktu”, “Gelombang Algoritma”, “Membingkai Kata-Kata”, serta “Kata, Rupa, dan Warna”, yang lahir dari proses panjang refleksi dan penelusuran ulang perjalanan intelektual penulis dalam beberapa tahun terakhir. 

Seperti yang kita ketahui, Riri Satria adalah seorang Komisaris Utama pada sebuah BUMN, Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) yang menaruh perhatian besar dengan dunia teknologi digital, ekonomi dan bisnis, kebudayaan, kesenian, kesusastraan, serta filsafat.

Dalam keterangan resminya, Riri mengungkapkan bahwa proses penyusunan keempat buku ini tidak berlangsung secara instan, melainkan melalui jeda panjang. 

Setelah menerbitkan buku “Login Haramain” pada 2025 yang berangkat dari pengalaman personal selama menjalankan ibadah haji, ia memilih berjalan lebih perlahan, menengok kembali berbagai catatan dan tulisan yang tersebar sejak 2022 di berbagai platform digital.

“Tulisan-tulisan itu seperti jejak diri saya di masa lalu. Ada yang masih relevan, ada yang mentah, ada juga yang justru mengejutkan saya sendiri,” ungkapnya di Jakarta, Jumat (20/3/2026).

Ia menjelaskan bahwa periode 2022 menjadi titik penting dalam perjalanan kepenulisannya, dengan terbitnya dua buku sebelumnya, yakni “Metaverse” (kumpulan puisi) dan “Jelajah” (kumpulan esai kesusastraan). 

Setelah itu, ia memasuki fase keheningan yang diibaratkannya sebagai “tanah yang sedang menunggu musim”.

Momentum Penyusunan Empat Buku

Momentum penyusunan empat buku ini mulai menguat pada Oktober 2025, usai perayaan ulang tahun komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM).

 Dalam suasana hangat bersama para sahabat penulis, sebuah pernyataan ringan tentang rencana menerbitkan buku di tahun 2026 justru berubah menjadi komitmen yang serius.

Sejak saat itu, Riri mulai mengarsipkan, memilah, dan mengklasifikasikan tulisannya. Ia membedakan antara puisi dan esai, serta mengelompokkan esai berdasarkan tema besar seperti transformasi digital, kecerdasan buatan, kebudayaan, hingga kemanusiaan.

Dari proses tersebut, lahirlah empat naskah dengan karakter yang berbeda. “Bom Waktu” berisi puisi-puisi yang menangkap kegelisahan zaman, sementara “Gelombang Algoritma” membahas arus besar perubahan teknologi. Buku “Membingkai Kata-Kata” menjadi refleksi tentang proses menulis, dan “Kata, Rupa, dan Warna” merangkum gagasan tentang kebudayaan dan kemanusiaan.

Saat ini keempat naskah tersebut masih dalam tahap evaluasi oleh sejumlah penulis dan penyair para sahabatnya, antara lain Nunung Noor El Niel, Rissa Churria, Shantined, Emi Suy, serta Khairani Piliang. 

Setelah itu, naskah akan melalui evaluasi akhir oleh Sofyan R.H. Zaid, pimpinan Taresi Books yang direncanakan menjadi penerbit keempat buku tersebut.

Salah satu tanggapan datang dari penyair Emi Suy yang telah membaca “Bom Waktu”. Ia menilai karya tersebut menghadirkan refleksi mendalam tentang kehidupan manusia di tengah laju zaman yang kian cepat.

“Membaca Bom Waktu seperti berdiri di tengah zaman yang bergerak terlalu cepat, lalu seseorang menepuk bahu kita dan berkata: ‘lihatlah lebih pelan’,” ujar Emi. 

Ia menambahkan bahwa puisi-puisi dalam buku tersebut tidak hanya berbicara tentang teknologi dan pembangunan, tetapi juga menangkap kegelisahan manusia, ketimpangan, hingga kesunyian yang kerap terabaikan.

Menurutnya, Riri menulis dengan nada tenang namun memiliki daya ledak reflektif yang kuat. Puisi-puisinya tidak menggurui, melainkan menghadirkan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang keadilan, masa depan, dan posisi manusia dalam arus peradaban modern.

Riri sendiri mengakui bahwa proses menuju penerbitan masih menyisakan perasaan lega sekaligus cemas. Ia membuka ruang seluas-luasnya bagi kritik dan masukan dari para pembaca awal.

“Buku-buku ini bukan sekadar hasil menulis, tetapi bagian dari perjalanan panjang, yaitu mengumpulkan, memilih, meragukan, mempercayai, lalu merelakan,” tuturnya.

Meski belum mengetahui bagaimana karya-karyanya akan diterima publik, Riri menyimpan harapan sederhana agar buku-buku tersebut dapat menemukan pembacanya dan memberikan manfaat, sekecil apa pun.

Jika seluruh proses berjalan sesuai rencana, keempat buku tersebut akan resmi diluncurkan pada Mei 2026.( Lasman Simanjuntak)

Saturday, 14 March 2026

Penutupan Safari Ramadhan Yayasan Pengawal Etika Nusantara Dorong Inklusivitas Digital bagi Anak Disabilitas

JAKARTA- Rangkaian kegiatan Safari Ramadhan yang diselenggarakan oleh Yayasan Pengawal Etika Nusantara resmi ditutup melalui acara "Workshop & Bedah Buku: Hijrah Digital Menjadi Bijak, Kreatif & Inklusif" yang digelar di PDS HB Jassin, Gedung Panjang  Ali Sadikin, Taman Ismail Marzuki (TIM), di Jakarta, kemarin.

Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat literasi digital yang bijak sekaligus mendorong ekosistem yang lebih inklusif bagi anak-anak penyandang disabilitas.

Acara menghadirkan rangkaian kegiatan edukatif dan inspiratif, mulai dari pentas seni anak disabilitas hingga sesi bedah buku "Iqra Cerdas" karya Dr. Amalliah Kadir, M.Pd. 

Pentas seni yang ditampilkan anak-anak penyandang disabilitas menjadi simbol kuat bahwa keterbatasan fisik maupun kognitif tidak menjadi penghalang untuk berekspresi, berkarya, dan menunjukkan potensi mereka di ruang publik.

Ketua Panitia acara, Magdalena Kusmiyati, S.IP., M.IKom., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen yayasan untuk mengajak masyarakat memanfaatkan teknologi secara bijak tanpa meninggalkan nilai etika dan pendidikan. 

"Melalui Safari Ramadhan ini kami ingin menghadirkan ruang kolaborasi yang mendorong literasi digital yang sehat dan inklusif. Harapannya, teknologi dapat menjadi sarana pemberdayaan, termasuk bagi anak-anak berkebutuhan khusus," ujarnya.

Sesi utama kegiatan diisi dengan diskusi dan bedah buku yang menghadirkan penulis Dr. Amalliah Kadir, M.Pd., bersama akademisi Dr. Santa Lorita Simamora, M.Si., dengan. moderator Rita Sri Hastuti. 

Diskusi membahas bagaimana metode Iqra Cerdas dapat membantu proses belajar membaca bagi anak dengan kebutuhan khusus, termasuk disleksia dan gangguan memori, melalui pendekatan visual dan stimulasi saraf.

Diskusi berlangsung interaktif dengan partisipasi aktif para orang tua yang berbagi pengalaman mengenai tantangan mendampingi anak di era digital. 

Pembahasan menekankan pentingnya peran keluarga dalam mengarahkan penggunaan teknologi agar tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga mendukung proses pembelajaran dan. perkembangan anak.

Selain sesi diskusi, kegiatan ini juga dimeriahkan dengan bazar UMKM serta dukungan dari berbagai pihak, termasuk Savoria. 

Melalui penutupan Safari Ramadhan ini, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya inklusivitas digital semakin meningkat dan mampu mendorong terciptanya lingkungan yang lebih ramah bagi anak-anak disabilitas.(**/Lasman)

Sunday, 8 February 2026

Immersion by Lexus Hadirkan Pameran Seni 'Continuum' Bersama Seniman Oliver Wihardja

Jakarta, BeritaRayaOnline- Lexus Indonesia melalui Immersion by Lexus kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan amazing experience yang melampaui dunia otomotif dengan menggelar pameran seni bertajuk “Continuum : Through the Lens of a Pure Spirit.” 

Pameran ini berlangsung mulai 31 Januari 2026 hingga 7 Maret 2026 di Immersion by Lexus, Menara Astra, Jakarta.

Pameran “Continuum " merupakan kolaborasi Immersion by Lexus dengan Oliver Wihardja, seorang seniman berkebutuhan khusus, yang menghadirkan rangkaian karya lukisan reflektif tentang kehidupan, budaya, serta keseharian. 

Melalui pendekatan yang jujur dan personal, karya-karya Oliver selaras dengan filosofi Takumi craftsmanship Lexus—yang menjunjung tinggi proses, ketekunan, presisi, serta perhatian pada detail.

Tertanam Dalam Setiap Kanvas

Mengangkat tema "Continuum"  pameran ini menampilkan seni dan keahlian yang tertanam dalam setiap kanvas. 

Koleksi yang dipamerkan mengajak pengunjung untuk menyelami makna proses dan keberlanjutan budaya, sekaligus menyambut bulan Februari yang bertepatan dengan perayaan Tahun Baru Imlek di Indonesia, sebagaimana ditangkap melalui sudut pandang khas Oliver.

Seluruh karya dalam pameran ini berangkat dari pengalaman hidup Oliver dalam menjalani tradisi keluarga dan budaya Tionghoa. 

Setiap tahun, ia merayakan momen kebersamaan bersama keluarga besar melalui aktivitas berbagi hidangan, menerima angpao, dan mengikuti ritual lo hei

Di luar perayaan, tradisi tersebut hadir secara alami dalam kesehariannya. Hal ini tergambar dalam lukisan-lukisan yang menampilkan tarian barongsai dan jamuan reuni berdampingan dengan adegan sederhana seperti meja dim sum, aktivitas para penjaga toko, hingga permainan mahjong yang berlangsung santai. 

Keseluruhan karya merefleksikan bagaimana budaya diwariskan secara berkelanjutan melalui kebersamaan, cerita, dan kebiasaan sehari-hari.

Sebagai bagian dari kepedulian sosial, Oliver akan menyumbangkan 50 persen dari hasil penjualan lukisan koleksi "Continuum"  untuk membantu korban banjir di Sibolga, Sumatera, melalui KWI (Konferensi Waligereja Indonesia). 

Dana yang terkumpul akan mendukung program pembangunan 1.000 unit rumah bagi masyarakat terdampak bencana.

Melalui pameran ini, Immersion by Lexus kembali menegaskan perannya sebagai brand space yang memadukan seni, budaya, dan luxury lifestyle.

Sekaligus membuka ruang inklusif bagi talenta dengan kemampuan istimewa untuk berkarya dan diapresiasi secara luas. (Lasman Simanjuntak)